OctaFX Indonesia : Home /Berita /Pemerintah Ancam Memblokir Aplikasi Lain setelah Telegram

Pemerintah Ancam Memblokir Aplikasi Lain setelah Telegram

Pemerintah mengancam untuk memblokir aplikasi media sosial, selain Telegram, yang digunakan oleh kelompok teroris jika mereka gagal untuk bekerja sama dalam tindakan kontraterorisme. “Kita harus mengantisipasi dan mengatasi radikalisme,” kata juru bicara Kapolri Sr. Comr.

Martinus Sitompul mengatakan kepada Tempo kemarin. Pernyataan tersebut dibuat setelah pemerintah menutup aplikasi Telegram yang banyak digunakan oleh kelompok teroris untuk menyebarkan gagasan radikal dan merencanakan tindakan teror. Martinus mengatakan bahwa platform media sosial populer di kalangan teroris karena keamanannya.

Setelah pemblokiran Telegram, para teroris mungkin beralih ke layanan instant messenger lainnya. Karena itu, Martinus mengatakan bahwa polisi akan memperketat pemantauan aktivitas internet, terutama yang mengandung kandungan radikal.

Jika polisi menemukan konten radikal, mereka akan meminta Kementerian Komunikasi untuk memblokir platform tersebut. “Kami juga akan mengambil tindakan hukum terhadap akun yang menyebarkan kebencian dan gagasan radikal yang mengarah pada terorisme,” kata Martinus.

Pejabat Kementerian Komunikasi Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan bahwa kementerian tersebut terus berkomunikasi dengan penyedia layanan yang berbasis di Indonesia. “Semua penyedia layanan harus bekerja sama dengan pemerintah,” katanya.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah memblokir versi web Telegram karena alasan keamanan. Sebelas DNS telah ditutup, termasuk t.me, telegram.me dan telegram.org. Langkah-langkah tersebut diambil karena platform tersebut tidak menyediakan prosedur operasi standar untuk menangani terorisme.

Previous post:

Next post: